Kamis, 23 Juni 2016

Degradasi Nilai Budaya.ekonomi,sosial Dan Kearifan Lokal Di Bumi Pangkalan Jambu

Jika kita mencoba kembali kebeberapa Tahun yang lalu bilang saja itu di bawah tahun 2011,Pangkalan Jambu masih menjadi daya tarik untuk di bicarakan dan menjadi isu yang sexy di kalangan warga di luar daerah tentu halnya dalam hal yang bernilai positif,di kalangan Pemerhati Lingkungan dan budaya ,pangkalan Jambu terkenal dengan Negeri Betuah dan memang betuah dalam mengelola sumber daya Alam yang Ada dengan turun kesawah  dalam satu kali satu tahun,mungkin dengan cara bertani seperti itu telah menjadi kebiasaan nenek moyang mereka tampa ada pendidikan formal dari universitas terbesar sekali pun di Indonesia bahkan dunia dalam pemikiran mereka dengan cara tersebut unsur hara yang ada dalam tanah masih bisa terjaga,dan tanah masih tetap gembur,sebelum turun kesawah biasanya dalam 1(satu) kali setahun di lakukan ritual adat secara kecil2 bagi masyarakat tapi mempunyai nilai sacral yang tinggi,acara ini di kenal dengan Doa padang agar di tahun Tani ini hasil tani berlimpah,
Biasanya masyarakat melakukan pekerjaan di sawah dengan sisitem giliran yang biasanya di sebut (Arin) mengerjakan pekerjaan begantian dengan  system pembayaran dengan tenaga walau demikian  terlihat akrab ibu di sawah dengan tawa lepas mereka walau di panas terik matahari pekerjaan ini biasanya dimulai dari pukul 08,00,pagi sampai pukul 16,00 wib,dan biasanya kegiatan Arin dilakukan dengan beberapa kelompok dalam 1 Desa,dan kelompok laki – laki di bedakan dengan kelompok perempuan mungkin hal ini dilakukan agar tidak ada perbedaan karna kita ketahui bahwa perbedaan tenaga kerja laki-laki dan perempuan ..Kegiatan Arin tidak hanya dilakukan dalam hal mengerjakan pekerjaan sawah namun juga dalam beberapa Aspek Pekerjaan lainya ,
Dan selama musim turun kesawah di masing2 desa diadakan kelompok berburu agar berkuranya hama babi yang merusak tanaman padi dan kelompok itu pun di bayar bukan dengan mengunakan uang melainkan jika nantinya padi disawah warga sudah Panen masing2 ketua kelompok menjemput beras/padi kerumah masing – masing warga untuk pembayaran upah kelompok berburu dan hasil yang dikumpulkan nanti akan di bagi kepada masing –masing anggota club berburu babi,
Dan dimasa panceklik biasanya masyarakat mencari sumber pendapatan lain dengan cara mendulang emas(Ngerai) dengan membuat beberapa lubang kecil di dalam sungai yang di kenal dengan istilah (melebung) dan biasanya dilakukan di daerah uluan sungai dengan istilah (Mudik aek),dengan membawa perbekalan secukupnya untuk menginap di dalam hutan yang berada di bagian uluan sungai,walaupun terkadang ada yang dilakukan di desa biasanya di sebut dengan istilah (nembang) mengali tanah yang dimiliki oleh salah satu masyrakat dengan cara bersama dan berkelompok dan prose situ pun hanya membutuhkan beberapa mesin kecil untuk menyedot air dari lobang biasanya mengunakan mesin robbin,
Terkadang untuk para pendatang yang mengunjungi Pangkalan Jambu merupakan kepuasan tersendiri bagi mereka saat mandi di sepanjang aliran sungai yang jernih dengan beberapa batu besar dan untuk menambah asyiknya suasana biasanya kegiatan mandi dilakukan sambil menembak ikan di sungai dengan senapan ikan dan setelah dapat ikan di bakar (disepik) dan dimakan secara bersama atau dikatakan dengan (makan merawang), mungkin dengan suasana seperti ini terkadang timbul omongan dari beberapa ibu-ibu yang iseng kependatang kalau sudah minum air pangkalan jambu pasti akan kembali lagi .
Menjelang menyambut bulan puasa ada kebiasaan dan budaya masyarakat Pangkalan Jambu dengan istilah (mantai) acara pemotongan kerbau yang dilakukan secara Adat,dan biasanya dilakukan secara besar – besaran dan acara ini juga menjadi alasan bagi beberapa warga pangkalan jambu yang berada diluar (dirantau) untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul denga keluarga sambil menikmati sambal rendang kerbau ,
Bagi pecinta kuliner mungkin nama gelamai Perentak bukan asing lagi ditelinga kita ,pembuatan gelamai perentak juga dilakukan dalam 1(satu) kali dalam satu tahun biasanya di lakukan dalam pertengahan menjalankan ibadah Puasa ,disini kta juga akan menilai bahwa budaya yang ada bisa mempererat tali persaudaraan antara masyrakat secara tidak langsung ,pembuatan gelamai ini biasanya membutuhkan waktu 1 hari selama pembuatan dilakukan secara gotong royong dengan menyambangi beberapa (jarung) tempat pembuatan gelamai selama proses pembuatan akan kita lihat canda dan tawa di tempat pembuatan gelamai walau terkadang di bumbui dengan beberapa ejekan kecil kepada yang belum membuat gelamai dengan memberi minyak kepada perut yang belum membuat gelamai sehingga timbul keinginan mereka untuk membuat makan khas tersebut walaupun  ini gurauan tapi menjadi alasan untuk masyarakat lainya untuk membuat hal yang sama,kegiatan pembuatan gelamai sudah merupakan ciri khas bagi masyrakat pangkalan jambu dan hal ini mungkin wajib dilakukan dalam setiap keluarga hal ini dapat kita lihat biasanya sebelum bulan ramadhan ibu – ibu sudah mulai membuat (kosang ) tempat gelamai ,sehingga kaum bapak – bapak secara tidak langsung telah dituntut untuk membuat makanan tersebut karna tempatnya sudah disediakan istrinya masing – masing ,mungkin budaya ini juga yang menginspirasi salah satu seniman Pangkalan Jambu untuk membuat lagu ( kebalai kito kebalai nungu oto kiti beduo ,gelamai jo lauk bantai baju rayo lah nunggu pulo)’
Dan dalam keluarga untuk memulai melakukan sesuatu biasanya dilakukan perundingan kecil dan bisa dilakukan jika sudah menjadi keputusan bersama dan biasanya yang memegang peran penting dalam perundingan adalah mamak dan anak jantan dalam kelurga ,jika keduanya telah member penjelasan baru semua bisa dilakukan .

Sekarang kita mencoba menyimak  pada tahun diatas tahun 2012 Negeri Betuah Pangkalan Jmbu Masih menjadi hal yang menarik untuk dibicarakan di berbagai Kalangan tapi dengan Isu yang Berbeda ,dimana sejak maraknya aktivitas kegiatan Pertambangan dengan mengunakan alat Berat atau istilahnya dikenal dengan ngebox dikalangan masyarakat, dimana sawah yang ada telah diubah fungsi secara besar – besaran menjadi lokasi Petambangan Emas,tampa mengenal istilah pemulihan (atau reklamasi lahan dalam istilah pertambangan),hanya meningalkan kerikil dan lobang – lobang besar di tengah exs sawah mungkin ini yang akan di wariskan untuk generasi yang akan dating,,memang di pandang dari segi ekonomi hal ini memberi dampak perubahan secara instant dalam masyarakat hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang memiliki barang mewah dan kendaraan mewah,tapi disini lah awalnya perubahan dan pergeseran nilai – nilai positip didalam masyrakat itu bergeser,tidak jarang bahkan mungkin dalam sebagian besar pembukaan lahan ini lah yang menjadi pemicu keributan dalam keluarga hal ini disebabkan karna sebagian besar lahan sawah yang berada di pangkalan jambu merupakan  warisan keturunan yang dimiliki secara bersama dalam kelurga besar ,dengan adanya kegiatan penambangan disawah tersebut dalam pembagian hasil sering terjadi keributan yang menyebabnya pecahnya keakuran dalam keluarga  sehingga timbul yang istilahnya siapa jago dan siapa pintar dia yang banyak memperoleh hasil sementara yang hanya bisa pasrah dan diam hanya menerima apa yang di berikan saja,
Dengan meningkatnya perekonomian di kalangan masyrakat secara tidak langsung dan tampa disadari hal ini merupakan pasar yang segar bagi beberapa dari orang yang mengambil keuntungan dari hal tersebut salah satu contohnya adalah Pasar bagi mereka yang bergerak dalam pengedaran Narkoba Generasi muda yang memiliki sejumlah uang berlebih ditawari berbagai jenis obat- obat terlarang dan ini merupakan ancaman tersendiri jika kegiatan penambangan ini berakhir dan generasi muda sudah ketergantungan pada obat-obat tersebut,di sisi lain Masyrakat juga memiliki keinginan yang tinggi untuk memperoleh dan membeli barang – barang mewah yang terkadang belum begitu dia butuhkan dalam kehidupan sehari – hari ,hal ini bisa kita lihat dan saksikan secara nyata dalam kehidupan beberapa banyak masyrakat yang membeli mobil mewah dan yang paling ironis adalah anak-anak yang belum cukup umurdan masih labil  telah dibelikan kendaraan yang diluar kemampuan mereka untuk mengendarai kendaraan tersebut yang secara langsung juga berdampak pada meningkatnya jumlah kecelakaan pada anak-anak,hal yang salah dalam member kasih saying terhadap anak.pola hidup modern pun memasuki pola fikir masyrakat yang sebenarnya belum siap menjalani nya,
Dengan aktivitas penambangan yang ada juga menyebabkan pencemaran dan pendangkalan di sepanjang Aliran sungai Pangkalan Jambu yang juga Merupakan DAS sungai Mesumai dan juga SUBDAS Sungai batang hari dengan kondisi air sungai yang tercemar menyebabkan beberapa desa yang berada di bagian hilir tidak bisa memamfaatkan lagi sungai tersebut jangan kan untuk MCK untuk mengairi sawah saja tidak bisa di gunakan untuk memutar kincir air yang mengaliri air kesawah karna air sungai sebgaian besar sudah bercampu lumpur.di kalangan masyrakat yang tinggal di pangkalan jambu itu pun sendiri untuk minumpun membeli air di beberapa depot air yang tersedia aneh memang tinggal di sumber air tapi kekurangan air,
Kebudayaan yang bergeser juga bisa kita lihat dari tidak adanya lagi masyrakat yang melakukan pembuatan gelamai yang merupakan ciri khas makanan di pangkalan jambu walaupun ada mngin jumlahnya hanya dalam skala kecil dan dilakukan oleh orang- orang yang masih mempertahankan dan menyediakan oleh – oleh untuk sanak mereka yang akan berkunjung selama hari raya dan tidak semarak yang dilakukan lagi,,sekrang yang timbul di benak kita mau dikemanakan pangkalan jambu dalam beberapa tahun kedepan,,

Djasmal (Aktif sebagai Fasilitator di WALESTRA)

Pentingnya Literasi Informasi

Dalam kegiatan sehari-hari dalam sebuah organisasi, perusahaan, maupun individu menghasilkan dokumen berisi informasi. Hal itu ditambah pula dengan berkembangnya ilmu teknologi yang secara langsung membuat jumlah informasi semakin banyak. Teknologi yang ada sekarang ini memudahkan kita untuk mendapatkan informasi yang kita butuhkan dari mana saja dan dalam bentuk apapun. Ribuan dan bahkan jutaan informasi berada disekitar kita. Berbagai jenis media menyampaikannya hingga sampai kepada setiap orang. Perkembangan teknologi yang sedemikian cepat dan pesat menyebabkan munculnya berbagai informasi yang dihasilkan selain buku atau bahan tercetak, misalnya microfilm,cakram padat, e-book, dan lain sebagainya. Hal itu mengakibatkan ledakan informasi yang sangat dahsyat. Didalam Istilah yang digunakan untuk menggambarkan peningkatan jumlah informasi dengan cepat dan menghasilkan begitu banyak data. Kemudian berkembang isilah-istilah lain seperti informasi polusidan lain sebagainya.

Menurut Rubin, Penggunaan istilah tersebut menggambarkan, informasi yang ada saat ini sangatlah berlimpah dan tidak terbendung sehingga menimbulkan ketakutan sekaligus kecemasan informasi (information anxiety). Dalam infrastruktur informasi, peran perpustakaan merupakan penyebar informasi yakni dalam membantu seseorang menemukan informasi yang sesuai dengan kebutuhanya. Rubin mengemukakan bahwa perkembangan teknologi juga mengakibatkan saluran penyebaran informasi menjadi bervariasi, misalnya internet, Televisi, jaringan telepon umum, jaringan telepon seluler dan lain sebagainya. Di satu sisi saluran-saluran tersebut menyediakan akses informasi yang besar, sementara di sisi lain semakin banyak informasi yang diciptakan dalam bentuk elektronik semakin besar pula ketergantunganya pada komponen elektronik (komputer, telepon, radio, televisi) dan ketergantungan pada penyebar informasi tradisional seperti perpustakaan semakin berkurang.

Oleh karena itu khususnya pada masyarakat sebagai pengguna informasi, harus memiliki sebuah kemampuan untuk mengenali kebutuhan informasi, membangun strategi pencarian informasi, menemukan dan mengakses informasi, mengorganisasikan, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara etis dan tepat, mengkomunikasikan dan menciptakan informasi.

Untuk mendapatkan kemampuan literasi informasi seseorang perlu mencari tahu bagaimana di dalam literasi informasi itu atau perlu mendapatkan bimbingan terlebih dahulu setiknya belajar dengan orang yang lebih ahli mengenai literasi informasi atau bisa juga melalui internet. Masyarakat lah nantinya yang akan mendidik anak-anak mereka seperti, membaca dan menulis dan bagaimana mencari informasi yang dibutuhkan setelah didapatkanya kemudian memilih dan mengolah informasi tersebut lalu disebarkan atau diberikan kepada orang lain. Tentunya informasi yang mereka dapatkan informasi yang bersifat positifdan mendidik. Pendidikan literasi informasi hendaknya diperkenalkan kepada masyarakat agar masyarakat nantinya terbiasa dengan pencarian informasi yang dibutuhkan sehari-hari terutama di dalam mendidik orang yang ada disekitarnya. Kemampuan literasi semacam ini bersifat longlife learning atau dengan kata lain pembelajaran yang berguna sepanjang hayat. Kemampuan ini dapat dipakai dalam kehidupan mereka kelak misal dalam kehidupan sosial, bidang pekerjaan atau dalam mengambil keputusan.

Literasi informasi juga dapat membentuk pribadi yang berpikir kritis, untuk itu sangat penting kemampuan berpikir kritis karena seseorang tidak percaya begitu saja dengan informasi yang ada serta didapatnya. Kemampuan seperti inilah yang dapat mendorong seseorang untuk selalu ingin tahu terhadap segala informasi yang selalu berkembang dan terus mencari kebenaranya, kemudian ia mencari informasi dari berbagai sumber dan akhirnya dapat menemukan kebenaran informasi tersebut

 

Pesan Menyambut Fajar

Seperti biasa saat itu aku sedang asyik menghabiskan waktu dengan cara yang sia-sia, bercengkrama dengan asyiknya teknologi informasi tidak terkecuali media social. Merasa cukup letih dengan hal tersebut akupun mencoba membaringkan badan di tempat tidur. Sedang pikiranku melayang-layang, tiba-tiba telepon genggam lusung milikku berbunyi. Siapa pula yang menelpon ini pikirku.
Rupanya seorang teman baru wanita yang sekitar 2 minggu ini aku kenal.
“Halooo”
“lagi apa bang?” sebuah pertanyaan seolah-olah kami sudah lama saling mengenal
“tidak lagi apa-apa, kenapa?? “sebuah jawaban yang kupikir pantas diterima olehnya.
“gak bang, Cuma mau bahas soal pesanku yang ku kirimkan ke abang tadi pagi… hehe”
Sebuah pesan singkat yang sedikit mengejutkan dan menjadi sebuah pertanyaan dalam diriku sendiri, kenapa seorang perempuan yang baru ku kenal dengan percayanya mengirimkan sebuah pesan yang menurutku pribadi kepadaku untuk memberikan sedikit solusi atau mungkin sedikit ceramah dari menanggapi pesan yang ia sampaikan.
Tanpa panjang akan prolog, kami pun langsung mebahas tentang pesan pribadi yang ia sampaikan. Intinya cukup rumit dia ingin bercerita tentang masalah hidupnya yang sedikit terganggu oleh setiap polemic yang ada. Seperti biasa selayaknya seorang teman curhat aku mencoba untuk menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Cukup lama dia bercerita akan keluh kesah hidupnya, aku telah mencapai kesimpulan akan apa yang terjadi padanya sehingga dia belum sempurna merasakan kebahagian yang begitu melimpah di dunia ini, sehingga berdampak pada dirinya yang sering menyendiri dan tiba-tiba bisa meluapkan emosi yang tak terkontrol begitu saja.
Dalam tulisan ini mungkin aku sedikit akan puitis untuk menjawabnya melalui sebuah puisi yang fajar ini aku tulis

Hanya milikmu cahaya pagi hingga senja
dan rahasia kegelapan ketika malam tiba
pada Muhammad kau anugerahkan kemuliaan
pada sulaiman kau limpahkan keberadaan
kau tunjukkan keindahan-Mu melalui yusuf
dan cinta kasih-Mu melalui Isa

Kau jadikan perut burung-burung
kenyang ketika petang
dan lapar kembali di pagi hari
hingga terdengar selalu kicaunya
menghiasi kelopak hari yang terjaga

Kau jadikan bintang-bintang
selalu bertasbih padamu
kau ciptakan pohon-pohonan
selalu berzikir padamu
oo, Allah malu rasanya aku melihat burung pagi ini
terbang menukik ia seakan sujud syukur padamu
malu aku akan bintang
mampu berbagi secara ikhlas
dengan fajar yang mulai lantang timbul pagi ini
Doaku pagi ini,
Semoga aku selalu diberikan rasa iri
Supaya aku selalu bisa iri pada makhlukMu yang tak bernyawa.
Puisi yang sedikit jelek tapi mungkin ini bisa menjadi pesan untuk temanku. Sebuah puisi yang menggambarkan betapa Maha nya Tuhan kita. Temanku, tiada masalah yang tidak bisa kita selesaikan, tiada jalan yang tak berujung. Akan tetapi mungkin kita kurang belajar akan rasa syukur, kurang mampu memberikan sedikit rasa ikhlas dan kurang khusyuk saat menadahkankan tangan padanNya.

Negeri Aneh

Stephen W. Littlejohn dalam bukunya Teori Komunikasi Manusia (1983) setidaknya menekankan empat isu ontologis komunikasi untuk melihat hakikat daripada interaksi sosial yang terjadi ditengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah "Atas dasar apa Komunikasi di kontekstualitaskan?". Muhamad Mufid (2009) mencoba menjelaskan isu ini kedalam baris kalimat yang penulis anggap cukup representatif dan beralasan, bahwa isu tersebut "sejatinya hendak menegaskan pada apakah perilaku manusia diatur berdasarkan prinsip-prinsip Universal ataukah dilandaskan pada faktor-faktor situasional" belaka. Hal ini sangat menarik, karena kehidupan peradaban kita dibentuk dengan kebiasaan dan budaya kita,

Pengertian moral menurut Chaplin (2006), mengacu pada akhlak yang sesuai dengan peraturan sosial , atau menyangkut hukum adat kebiasaan yang mengatur tingkah laku. Jika aturan-aturan sosial yang tidak tertulis (unwritten law) mengatakan bahwa selingkuh merupakan perbuatan yang amoral (menyalahi aturan sosial/kebiasaan), tentu kemudian hal itu lama-kelamaan akan di wariskan dan membentuk pola laku hubungan interaksi antar manusia sehingga nilai tersebut terkristalisasi (crystalised) dan menjadi universal karena di akui dan di ikuti oleh seluruh manusia-manusia yang terwariskan.

Namun ada satu lagi faktor yang mempengaruhi perilaku manusia-manusia tersebut selain daripada prinsip-prinsip yang meng-universal tadi, yaitu situasional. Suatu keadaan yang menggambarkan persesuaian (koherensi) dalam situasi tertentu. Misalnya, dalam hukum adat kebiasaan menghindari hubungan dekat (lelaki dan perempuan) hingga adanya sentuhan fisik layaknya suami-istri karena mampu menjerumuskan kedalam tindakan-tindakan yang merugikan kedua pihak, baik secara personal maupun keluarga, namun karena media televisi dan internet yang kerap mempertontonkan bahwa hubungan dekat tersebut cenderung dilegitimasikan dengan pernyataan perasaan menjadi hubungan khusus atau yang sering disebut "pacaran", sehingga mempengaruhi gaya hidup dan interaksi sosial masyarakat dewasa ini. Artinya hakikat dari pada pengkontekstualisasian komunikasi, benar adanya dipengaruhi oleh nilai-nilai Universal dan faktor-faktor Situasional.

Sayangnya, kenyataan hari ini bahwa tarik-menarik antara prinsip Universal dan faktor Situasional tersebut berimbas pada kehancuran akhlak (perbuatan yang dilakukan secara sadar yang cenderung pada kehanifan). Dalam adat Melayu terkenal slogan yang disebut "adat bersendi syara', syara' bersendi Kitabullah (Al-Qur'an). Secara prinsipnya Al-Quran sangat melarang keras tindakan-tindakan seperti "perselingkuhan" untuk memperkaya diri pribadi dan hanya sebagian kecil golongan dan keluarganya saja dengan mengorbankan kepentingan orang lain yang lebih besar. Seperti yang tercantum dalam Q.S Al-Baqarrah;188, Q.S Al-Anfal;27, Q.S Al-Muminun;8. Tapi situasinya berbeda sekarang, ada faktor situasional yang merubah perilaku seseorang, Korupsi telah menjadi "trend" dalam kebiasaan politik karena jumlah tersangka koruptor yang mewakili dari segala tingkatan lini birokrasi publik dan swasta. Kalau dulu kita melihat orang yang di dakwa menjadi koruptor akan menangis dan penuh penyesalan dalam kehidupannya karena telah melakukannya, masa sekarang pemimpin maupun yang dipimpin akan melambaikan tangannya ke kamera wartawan dan tersenyum ketika didakwa menjadi koruptor.

Siapapun ia yang menyadari perubahan/pergeseran moralitas ini seharusnya mengambil tempat digaris depan sebagai moral forces dan agent of control. Karena etika tak bisa dijalankan dan di atur atau dikendalikan oleh sistem pada mesin, harus ada andil manusia dengan intelektualitas dan pengalamannya. Bukannya malah menjadi hipokrat dan pencuri-pencuri kecil lainnya atau karena keluarganya menjabat dalam suatu jabatan penting sehingga menjadi pembenaran segala bentuk pembiaran dan berujung kelalaian yang mengakibatkan kerugian yang massive. Kehancuran moralitas bangsa. Seperti salah satu ketua DPR kita yang "obrolan warung kopi"nya minta saham. Menggelikan.

Rabu, 22 Juni 2016

Negeri KU

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak
Kemenag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan
Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator
mayoritas.
Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang
mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah
dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang
sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan
minoritasnya Kristen.
Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya
Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.
Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam.
Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah
Islam.
Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah
Islam.
Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang
salah bukan Kristen.
Kalau Amerika Serikat jumawa dan adigang adigung
adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen.
Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero
Bagdad, Amerika Serikat lah pemegang sertifikat
kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti
demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur
siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra
demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam.
Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang
diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme
kaum non-Islam.
Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi
agar diakui oleh peradaban dunia.
Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang
membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media
massa Barat atas kesunyatan Islam.
Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani
dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk
mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan
menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW,
melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.
Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap
anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an,
saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-
demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap
kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia.
Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana
dari sudut yang semacam juga menilai Islam.
Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat
nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan
syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah
musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik
Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz
Negro dan entah apa lagi.
Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya?
Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”
Lho kok Arab bukan etnis?
Bukan !
Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam.
Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik,
karena ia indikatif Islam.
Sama- sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama
lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan
sambal, dan bukan lalap.
Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul
dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial
namanya.
Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-
sakib…”, itu universal namanya.
Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol
Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh,
ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan
tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.
Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi
kegelapan yang ditimpakan oleh peradaban yang fasiq
dan penuh dhonn (prasangka) kepada Islam, telah
terakumulasi sedemikian parahnya.
Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap
menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat
Islam.
*Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan
_diselenggarakan_ sendiri oleh kaum Muslimin* yang mau
tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari
mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada
kompetitornya.
*"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam
ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.*
Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu,
kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor –
maka akan meledak.
*Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi
metoda dan strategi penanganan antar ummat
beragama*.
Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang
transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. _*Sebab
kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau
dan mesiu untuk peperangan di masa depan*_.
__
*Dari buku "Iblis Nusantara Dajjal Dunia" karya Emha
Ainun Nadjib

Dibalik Ketidaktahuan

DIBALIK KETIDAKTAHUAN

Nabi NUH belum tahu Banjir akan datang ketika ia membuat Kapal dan ditertawai Kaumnya.

Nabi IBRAHIM belum tahu akan tersedia Domba ketika Pisau nyaris memenggal Buah hatinya.

Nabi MUSA belum tahu Laut dpt terbelah saat dia diperintah memukulkan tongkatnya.

Yang Mereka Tahu adalah bahwa Mereka harus PATUH pada Perintah ALLAH dan tanpa berhenti Berdoa yang Terbaik.
Ternyata dibalik KETIDAKTAHUAN kita, ALLAH telah menyiapkan Kejutan !
SERINGKALI Allah Berkehendak di detik-detik terakhir dalam pengharapan dan ketaatan hamba-hambaNYA.

Jangan kita berkecil hati saat sepertinya belum ada jawaban doa mu...
Karena Allah mencintai kita dengan cara-cara yang kita tidak duga dan mungkin kita tidak suka... karena Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan...
Lakukan bagian kita saja, dan Ikhlaskan Allah dgn ketetapanNYA...
Tetaplah Percaya
Tetaplah Berdoa
Tetaplah Setia
Tetaplah Meraih Ridha

Perpustakaan Perguruan Tinggi (Pengembangan Konsep Perpustakaan Ideal)


Perpustakaan perguruan tinggi sebagai perpustakaan akademik telah dan akan terus memiliki peran yang sangat penting dalam berjalannya kehidupan di suatu perguruan tinggi. Sebagai pusat informasi, perpustakaan memperoleh tempat utama dan sentral karena perpustakaan melayani semua fungsi perguruan tinggi. Sehingga untuk menjalankan fungsi tersebut perpustakaan perpustakaan menyediakan pelayanan yang bersifat mendasar dan mutlak. Perpustakaan sebagai salah satu instrument pendidikan selayaknya tidak lagi di pandang sebagai gudang buku yang dilengkapi dengan ruang baca. perpustakaan sudah saatnya dipandang sebagai kaki dari setiap civitas akademikadimana bila pelayanan perpustakaan tidak dijalankan secara baik maka suatu perguruan tinggi akan pincang karena tidak lagi dimanfaatkan secara baik sebagai pusat pembelajaran dan penelitian.
Kebutuhan akan perpustakaan merupakan suatu keharusan bagi dosen dan mahasiswa untuk menyelenggarakan proses pembelajaran yang efesien. Hal ini tentunya juga semakin diperkuat pada berubahnya metode pembelajaran yang konvensional kepada metode pembelajaran yang mengharuskan peserta didik untuk belajar lebih mandiri. Transformasi metode pembelajaran tersebut tentunya mengharuskan perpustakaan untuk meningkatkan pelayanan secara lebih baik lagi. Untuk menjalankan fungsi tersebut tentunya perpustakaan harus mampu menerjemahkannya kedalam perlakuan yang operasional. Perlakuan yang operasional maksudnya adalah pengembangan dan sistematisasi manajemen perpustakaan perguruan tinggi yang tepat dan ideal. Ada 2 faktor penting yang menurut saya bisa membuat perpustakaan peguruan tinggi lebih efektif, efesien serta mandiri dalam menjalankan fungsinya sebagai pemberi informasi yang ideal.
Pertama, perpustakaan harus Otonom secara keuangan. Otonom secara keuangan yang saya maksudkan disini adalah Lembaga perpustakaan yang ada dalam ruang lingkup perguruan tinggi harus dan sudah semestinya diberikan kebijakan dalam mengatur keuangannya sendiri, baik dalam proses penganggaran yang akan diajukan maupun pemakaian anggaran itu sendiri. Hal ini dimaksudkan agar tidak adanya tumpang tindih maupun kesalahan dalam setiap proyek-proyek yang dilakukan oleh perpustakaan, dimana dalam hal ini termasuk proyek pengadaan bahan pustaka, perbaikan system layanan perpustakaan, pekerjaan teknis perpustakaan, sarana dan prasarana perpustakaan dll.
Kedua, Otonom dalam perekrutan tenaga perpustakaan (Pustakawan maupun staf perpustakaan) hal ini dianggap sangat penting karena dalam setiap permasalahan perpustakaan selalu dititik beratkan kepada permasalahan SDM perpustakaan, dimana tenaga perpustakaan bekerja tidak sesuai dengan criteria kerja seorang yang mengelolah perpustakaan. Paradigma dimana perpustakaan merupakan tempat penerimaan pegawai yang tidak memiliki kompetensi akan tebantahkan. Dengan otonomnya suatu perpustakaan dalam perekrutan SDM membuat kepala perpustakaan untuk leluasa memberikan criteria-kriteria tenaga perpustakaan yang akan bekerja diperpustakaan, dengan demikian SDM yang akan masuk diperpustakaan sudah memiliki kompetensi dasar dalam mengelolah perpustakaan