Rabu, 22 Juni 2016

Negeri KU

Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak
Kemenag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan
Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator
mayoritas.
Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang
mayoritas bukan yang selain Islam – harus mengalah
dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang
sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan
minoritasnya Kristen.
Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya
Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.
Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam.
Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah
Islam.
Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah
Islam.
Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang
salah bukan Kristen.
Kalau Amerika Serikat jumawa dan adigang adigung
adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen.
Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero
Bagdad, Amerika Serikat lah pemegang sertifikat
kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti
demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur
siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra
demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam.
Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang
diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme
kaum non-Islam.
Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi
agar diakui oleh peradaban dunia.
Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang
membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media
massa Barat atas kesunyatan Islam.
Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani
dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk
mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan
menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW,
melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.
Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap
anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an,
saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-
demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap
kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia.
Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana
dari sudut yang semacam juga menilai Islam.
Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat
nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan
syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah
musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik
Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz
Negro dan entah apa lagi.
Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya?
Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”
Lho kok Arab bukan etnis?
Bukan !
Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam.
Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik,
karena ia indikatif Islam.
Sama- sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama
lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan
sambal, dan bukan lalap.
Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul
dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial
namanya.
Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-
sakib…”, itu universal namanya.
Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol
Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh,
ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan
tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.
Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi
kegelapan yang ditimpakan oleh peradaban yang fasiq
dan penuh dhonn (prasangka) kepada Islam, telah
terakumulasi sedemikian parahnya.
Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap
menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat
Islam.
*Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan
_diselenggarakan_ sendiri oleh kaum Muslimin* yang mau
tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari
mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada
kompetitornya.
*"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam
ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.*
Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu,
kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor –
maka akan meledak.
*Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi
metoda dan strategi penanganan antar ummat
beragama*.
Kita perlu menyelenggarakan ‘sidang pleno’ yang
transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. _*Sebab
kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau
dan mesiu untuk peperangan di masa depan*_.
__
*Dari buku "Iblis Nusantara Dajjal Dunia" karya Emha
Ainun Nadjib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar